Mengenal I’rab dan Bina serta Pembagiannya
Mengenal I’rab dan Bina serta Pembagiannya
Setelah
pembahasan kalam, berbagai literatur ilmu nahwu biasanya menlanjutkan dengan
pembahasan i’rab. Metode ini dipakai baik dari kitab yang ditulis secara
ringkas (mukhtashar) hingga kitab panjang lebar.
Ini membuktikan
bahwa i’rab juga memiliki peran penting dalam pembahasan ilmu nahwu, seperti
pembahasan kalam yang hampir setiap literatur dari disiplin ilmu nahwu, kalam
dijadikan sebagai pembahasan awal.
Lalu
bagaimanakah pengertian i’rab tersebut?
Definisi I’rab dan Pembagiannya
I’rab adalah perubahan
akhir atau ujung suatu kata karena masuk amil yang berbeda-beda, baik perubahan
tersebut terlihat (pada lafaz) ataupun tidak (pada takdir).
Contoh
perubahan yang terlihat (pada lafaz) adalah Zaid (زيد)
Apabila masuk
amil rafa’ pada lafaz Zaid, seperti Jaa`a (جاء)
maka lafaz Zaid dibaca rafa’ menjadi Jaa`a Zaidun (جاء زيدٌ).
Apabila masuk
amil nasab pada lafaz Zaid, seperti Ra`aitu (رأيت)
maka lafaz Zaid dibaca nasab menjadi Ra`aitu Zaidan (رأيت زيداً).
Dan apabila
masuk amil jar pada lafaz Zaid, seperti ba` (huruf jar) maka
lafaz Zaid dibaca jar menjadi Marartu bi Zaidin (مررت بزيد).
Contoh
perubahan yang tidak terlihat (pada takdir) adalah al-Fata (الفتى)
Apabila masuk
amil rafa’ pada lafaz al-Fata, seperti Jaa`a (جاء)
maka lafaz al-Fata dibaca rafa’ menjadi Jaa`a al-Fata (جاء الفتى).
Apabila masuk
amil nasab pada lafaz al-Fata, seperti Jaa`a (جاء)
maka lafaz al-Fata dibaca nasab menjadi Jaa`a al-Fata (جاء الفتى).
Apabila masuk
amil jar pada lafaz al-Fata, seperti Jaa`a (جاء)
maka lafaz al-Fata dibaca jar menjadi Jaa`a bi al-Fata (جاء بالفتى).
Secara kasat
mata tidak terjadi perubahan pada contoh al-Fata (الفتى), berbeda halnya dengan Zaid (زيد)
yang sangat jelas terjadi perubahan. Hal ini karena ada sesuatu yang membuatnya
tercegah terjadinya perubahan pada lafaz.
Namun walaupun
demikian, al-Fata tetap ada perubahannya. Yakni perubahan pada makna
atau sering disebutkan dengan mahal.
4 Pembagian I’rab
I’rab terdapat
4 pembagian, yaitu rafa’, nasab, khafad/jar dan jazam.
Peran pembagian
i’rab ini bagi isim dan fi’il berbeda.
Isim tidak
menerima jazam, sedangkan fiil tidak menerima khafad. Yakni tanda-tanda jazam
tidak terdapat pada isim dan tanda-tanda khafad juga tidak diperdapatkan pada
fi’il.
Untuk
mengetahui apa saja tanda-tanda rafa’, nasab, khafad/jar dan jazam.
Silahkan dibaca
di sini (link)
I’rab merupakan
lawan bina. Maksunya, setiap kata tidak terlepas dari dua bentuk ini, yaitu
i’rab dan bina. Lalu apa itu bina?
Definisi Bina dan Pembagiannya
Bina adalah
ketetapan akhir suatu kata ketika dimasuki amil, baik itu berbaris ataupun
tidak.
Untuk mudah
memahaminya, bina dapat diartikan dengan kebalikan i’rab karena bina adalah
lawan daripada i’rab.
Contohnya kata Man
(مَنْ)
Kata Man di
atas diakhiri dengan huruf nun yang tidak berbaris (sukun).
Kata ini tidak
akan berubah walaupun didahuli oleh beberapa amil yang bermacam-macam, baik itu
amil rafa’, nashab, khafad maupun jazam.
Pembagian Bina
Bina juga
terdapat 4 pembagian, yaitu dhammah, fatah, kasrah dan sukun.
Contoh bina
dhammah adalah Haytsu (حَيْثُ), Qablu
(قَبْلُ) dan Ba’du (بَعْدُ)
Contoh bina
fatah adalah Aina (أَيْنَ)
dan Qaama (قَامَ)
Contoh bina
kasrah adalah Amsi (أَمْسِ)
Contoh bina
sukun adalah Man (مَنْ)
dan Kam (كَمْ)
Posting Komentar