Jadilah orang pertama yang menerima update artikel terbaru dari kami!!!

Mengenal Pendapat Qadim yang Kuat

Daftar Isi
Mengenal Pendapat Qadim yang Kuat

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa dalam khazanah mazhab Syafi’i terdapat istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Qaul qadim adalah pendapat Imam Syafi’i sebelum beliau memasuki Mesir, sedangkan qaul jadid adalah pendapat Imam Syafi’i ketika beliau sudah berada di Mesir dan juga pendapat qadim yang tetap diberlakukan ketika beliau berada di Mesir.

Qaul jadid merupakan pendapat yang kuat dan diamalkan, berbeda dengan qaul qadim yang secara tegas dilarang oleh Imam Syafi’i untuk menggunakan pendapat tersebut, baik dalam beramal maupun fatwa.

Untuk mengetahui penjelasan ini, silahkan baca di sini

Namun, para ulama Syafi’iyyah melakukan penelitian kembali terhadap qaul qadim. Dari penelitian itu, terdapat beberapa qaul qadim yang dianggap kuat sehingga bisa digunakan untuk beramal dan berfatwa.

Dalam hal ini, Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah masalah yang diunggulkan dari qaul qadim. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi:

كل مسألة فيها قولان للشافعي رحمه الله قديم وجديد فالجديد هو الصحيح وعليه العمل لأن القديم مرجوع عنه واستثنى جماعة من أصحابنا نحو عشرين مسألة أو أكثر وقالوا يفتى فيها بالقديم وقد يختلفون في كثير منها

Artinya: “Setiap masalah itu pasti tidak terlepas dari dua pendapat Imam Syafi’i, yaitu qadim dan jadid, jadid adalah yang benar dan diamalkan. Karena pendapat qadim adalah pendapat marju’ ‘an (pendapat yang sudah ditarik kembali). Satu kelompok dari ashab kita mengecualikan kadar 20 masalah atau lebih banyak, mereka mengatakan pada masalah tersebut difatwakan dengan pendapat qadim, dan mereka berselisih pendapat tentang jumlah masalah tersebut.”

Namun, di sini penulis hanya mencantumkan satu saja yang menurut penulis, jumlahnya lebih banyak dari sumber lain yang penulis temukan. Yaitu di dalam kitab Hasyiah al-Bujairimi ala al-Khatib karangan Syeikh Sulaiman, yang mana beliau menjelaskan bahwa jumlah qaul qadim yang diunggulkan berjumlah 22 masalah.

1.   Tidak wajib menjauhi najis pada air yang tenang.

2.   Sunat mengucapkan tatswib (mengucapkan al-Shalaatu khoirun min al-Naum) pada adzan subuh (baik adzan pertama atau kedua).

3.   Wudhu tidak batal dengan menyentuh mahram.

4.   Air banyak yang mengalir apabila terkena najis tetap suci jika tidak berubah.

5.   Bersuci pakai batu tidak cukup apabila air kencing menyebar ke mana-mana.

6.   Sunat melaksanakan shalat isya diawal waktu.

7.   Waktu shalat magrib tidak habis dengan shalat 5 rakaat (berakhirnya waktu magrib sampai hilangnya mega yang berwarna merah).

8.   Tidak disunatkan baca surat pada rakaat ke 3 dan 4.

9.   Boleh bagi orang yang shalat sendirian apabila telah takbiratul ihram menjadikan dirinya mengikuti Imam (niat berjamaah).

10. Makruh memotong kuku mayit.

11. Tidak memandang nishab dalam rikaz (harta karun).

12. Boleh syarat tahallul pada haji dengan udzur sakit.

13. Haram memakan kulit bangkai yang telah di samak.

14. Sayid wajib dihad (hukuman) karena menyetubuhi mahram yang menjadi budak.

15. Diperbolehkan persaksian dua anak atas kedua orang tuanya.

16. Hukuman kesaksian harta apabila kesaksiannya menarik kembali.

17. Gugurnya dua dalil bila bertentangan.

18. Apabila salah satu dua dalil adalah dua saksi dan ditantang oleh seorang saksi dan sumpah maka dikuatkan dua saksi.

19. Tidak disumpah si dakhil beserta dalilnya jika ditantang oleh dalil si kharij.

20. Apabila bertentangan dua dalil dan salah satunya mengebawahkan yang lain maka dalil tersebut didahulukan (pendapat ini shahih disisi Qadhi Husain).

21. Apabila seorang amah (budak perempuan) mengalami watak syubhat kemudian orang yang watak memiliki amah tersebut maka amah menjadi ummu walad menurut salah satu qaulain pada pendapat qadīm (pada kesahihanya diperselisihkan)

22. Menikahkan ummu walad (terdapat dua qaulain) pada kesahihanya diperselisihkan.

Berikut redaksinya.

ﻓﺎﺋﺪﺓ : ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻔﺘﻲ ﺑﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺗﺒﻠﻎ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﻋﺪﻡ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺘﺒﺎﻋﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﻛﺪ ﻭﺍﻟﺘﺜﻮﻳﺐ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﺍﻥ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻧﺘﻘﺎﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﻤﺲ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻻﻛﺘﻔﺎﺀ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺸﺮ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺗﻌﺠﻴﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﻭﻋﺪﻡ ﻣﻀﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺑﻤﻀﻲ ﺧﻤﺲ ﺭﻛﻌﺎﺕ ، ﻭﻋﺪﻡ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﻴﺮﺗﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺮﻡ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﺛﻢ ﺃﻧﺸﺄ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ، ﻭﻛﺮﺍﻫﻴﺔ ﻗﻠﻢ ﺃﻇﻔﺎﺭ ﺍﻟﻤﻴﺖ ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻨﺼﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﺎﺯ ، ﻭﺷﺮﻁ ﺍﻟﺘﺤﻠﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺞ ﺑﻌﺬﺭ ﺍﻟﻤﺮﺽ، ﻭﺗﺤﺮﻳﻢ ﺃﻛﻞ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﺑﺎﻍ ، ﻭﻟﺰﻭﻡ ﺍﻟﺤﺪ ﺑﻮﻁﺀ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺑﻤﻠﻚ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ، ﻭﻗﺒﻮﻝ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﻓﺮﻋﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺻﻠﻴﻦ ، ﻭﻏﺮﺍﻣﺔ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻭﺗﺴﺎﻗﻂ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﻴﻦ ﺷﺎﻫﺪﻳﻦ ﻭﻋﺎﺭﺿﻬﺎ ﺷﺎﻫﺪ ﻭﻳﻤﻴﻦ ﻳﺮﺟﺢ ﺍﻟﺸﺎﻫﺪﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﻋﺪﻡ ﺗﺤﻠﻴﻒ ﺍﻟﺪﺍﺧﻞ ﻣﻊ ﺑﻴﻨﺘﻪ ﺇﺫﺍ ﻋﺎﺭﺿﻬﺎ ﺑﻴﻨﺔ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺿﺖ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﺎﻥ ﻭﺃﺭﺧﺖ ﺇﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﻗﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺣﺴﻴﻦ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻋﻠﻘﺖ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻦ ﻭﻁﺀ ﺷﺒﻬﺔ ﺛﻢ ﻣﻠﻜﻬﺎ ﺍﻟﻮﺍﻃﺊ ﺻﺎﺭﺕ ﺃﻡ ﻭﻟﺪ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ، ﻭﺗﺰﻭﻳﺞ ﺃﻡ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻓﻴﻪ ﻗﻮﻻﻥ ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

 

Sumber:

Hasyiah al-Bujairimi ala al-Khatib

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab

Posting Komentar