Mengenal Pendapat Qadim yang Kuat
![]() |
Mengenal Pendapat Qadim yang Kuat |
Sebagaimana
yang telah kita ketahui, bahwa dalam khazanah mazhab Syafi’i terdapat istilah
qaul qadim dan qaul jadid.
Qaul qadim
adalah pendapat Imam Syafi’i sebelum beliau memasuki Mesir, sedangkan qaul
jadid adalah pendapat Imam Syafi’i ketika beliau sudah berada di Mesir dan juga
pendapat qadim yang tetap diberlakukan ketika beliau berada di Mesir.
Qaul jadid
merupakan pendapat yang kuat dan diamalkan, berbeda dengan qaul qadim yang
secara tegas dilarang oleh Imam Syafi’i untuk menggunakan pendapat tersebut,
baik dalam beramal maupun fatwa.
Untuk
mengetahui penjelasan ini, silahkan baca di sini
Namun, para
ulama Syafi’iyyah melakukan penelitian kembali terhadap qaul qadim. Dari
penelitian itu, terdapat beberapa qaul qadim yang dianggap kuat sehingga bisa
digunakan untuk beramal dan berfatwa.
Dalam hal ini,
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah masalah yang diunggulkan dari qaul
qadim. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi:
كل مسألة فيها
قولان للشافعي رحمه الله قديم وجديد فالجديد هو الصحيح وعليه العمل لأن القديم
مرجوع عنه واستثنى جماعة من أصحابنا نحو عشرين مسألة أو أكثر وقالوا يفتى فيها
بالقديم وقد يختلفون في كثير منها
Artinya:
“Setiap masalah itu pasti tidak terlepas dari dua pendapat Imam Syafi’i, yaitu
qadim dan jadid, jadid adalah yang benar dan diamalkan. Karena pendapat qadim
adalah pendapat marju’ ‘an (pendapat yang sudah ditarik kembali). Satu kelompok
dari ashab kita mengecualikan kadar 20 masalah atau lebih banyak, mereka
mengatakan pada masalah tersebut difatwakan dengan pendapat qadim, dan mereka
berselisih pendapat tentang jumlah masalah tersebut.”
Namun, di sini
penulis hanya mencantumkan satu saja yang menurut penulis, jumlahnya lebih
banyak dari sumber lain yang penulis temukan. Yaitu di dalam kitab Hasyiah
al-Bujairimi ala al-Khatib karangan Syeikh Sulaiman, yang mana beliau
menjelaskan bahwa jumlah qaul qadim yang diunggulkan berjumlah 22 masalah.
1. Tidak
wajib menjauhi najis pada air yang tenang.
2. Sunat
mengucapkan tatswib (mengucapkan al-Shalaatu khoirun min al-Naum) pada adzan
subuh (baik adzan pertama atau kedua).
3. Wudhu
tidak batal dengan menyentuh mahram.
4. Air
banyak yang mengalir apabila terkena najis tetap suci jika tidak berubah.
5. Bersuci
pakai batu tidak cukup apabila air kencing menyebar ke mana-mana.
6. Sunat
melaksanakan shalat isya diawal waktu.
7. Waktu
shalat magrib tidak habis dengan shalat 5 rakaat (berakhirnya waktu magrib
sampai hilangnya mega yang berwarna merah).
8. Tidak
disunatkan baca surat pada rakaat ke 3 dan 4.
9. Boleh
bagi orang yang shalat sendirian apabila telah takbiratul ihram menjadikan
dirinya mengikuti Imam (niat berjamaah).
10. Makruh
memotong kuku mayit.
11. Tidak
memandang nishab dalam rikaz (harta karun).
12. Boleh
syarat tahallul pada haji dengan udzur sakit.
13. Haram
memakan kulit bangkai yang telah di samak.
14. Sayid
wajib dihad (hukuman) karena menyetubuhi mahram yang menjadi budak.
15. Diperbolehkan
persaksian dua anak atas kedua orang tuanya.
16. Hukuman
kesaksian harta apabila kesaksiannya menarik kembali.
17. Gugurnya
dua dalil bila bertentangan.
18. Apabila
salah satu dua dalil adalah dua saksi dan ditantang oleh seorang saksi dan
sumpah maka dikuatkan dua saksi.
19. Tidak
disumpah si dakhil beserta dalilnya jika ditantang oleh dalil si kharij.
20. Apabila
bertentangan dua dalil dan salah satunya mengebawahkan yang lain maka dalil tersebut
didahulukan (pendapat ini shahih disisi Qadhi Husain).
21. Apabila
seorang amah (budak perempuan) mengalami watak syubhat kemudian orang yang
watak memiliki amah tersebut maka amah menjadi ummu walad menurut salah satu
qaulain pada pendapat qadīm (pada kesahihanya diperselisihkan)
22. Menikahkan
ummu walad (terdapat dua qaulain) pada kesahihanya diperselisihkan.
Berikut
redaksinya.
ﻓﺎﺋﺪﺓ : ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ
ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻔﺘﻲ ﺑﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺗﺒﻠﻎ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﻋﺪﻡ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺘﺒﺎﻋﺪ
ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﻛﺪ ﻭﺍﻟﺘﺜﻮﻳﺐ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﺍﻥ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻧﺘﻘﺎﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﻤﺲ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ
ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻻﻛﺘﻔﺎﺀ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺸﺮ ﺍﻟﺒﻮﻝ
ﻭﺗﻌﺠﻴﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﻭﻋﺪﻡ ﻣﻀﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺑﻤﻀﻲ ﺧﻤﺲ ﺭﻛﻌﺎﺕ ، ﻭﻋﺪﻡ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﻴﺮﺗﻴﻦ
، ﻭﺍﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺮﻡ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﺛﻢ ﺃﻧﺸﺄ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ، ﻭﻛﺮﺍﻫﻴﺔ ﻗﻠﻢ ﺃﻇﻔﺎﺭ ﺍﻟﻤﻴﺖ ، ﻭﻋﺪﻡ
ﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻨﺼﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﺎﺯ ، ﻭﺷﺮﻁ ﺍﻟﺘﺤﻠﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺞ ﺑﻌﺬﺭ ﺍﻟﻤﺮﺽ، ﻭﺗﺤﺮﻳﻢ ﺃﻛﻞ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ
ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﺑﺎﻍ ، ﻭﻟﺰﻭﻡ ﺍﻟﺤﺪ ﺑﻮﻁﺀ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺑﻤﻠﻚ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ، ﻭﻗﺒﻮﻝ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﻓﺮﻋﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﻦ
ﺍﻷﺻﻠﻴﻦ ، ﻭﻏﺮﺍﻣﺔ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻭﺗﺴﺎﻗﻂ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ
ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﻴﻦ ﺷﺎﻫﺪﻳﻦ ﻭﻋﺎﺭﺿﻬﺎ ﺷﺎﻫﺪ ﻭﻳﻤﻴﻦ ﻳﺮﺟﺢ ﺍﻟﺸﺎﻫﺪﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﻋﺪﻡ ﺗﺤﻠﻴﻒ
ﺍﻟﺪﺍﺧﻞ ﻣﻊ ﺑﻴﻨﺘﻪ ﺇﺫﺍ ﻋﺎﺭﺿﻬﺎ ﺑﻴﻨﺔ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺿﺖ ﺍﻟﺒﻴﻨﺘﺎﻥ ﻭﺃﺭﺧﺖ ﺇﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﻗﺪﻣﺖ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺣﺴﻴﻦ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻋﻠﻘﺖ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻦ ﻭﻁﺀ ﺷﺒﻬﺔ ﺛﻢ ﻣﻠﻜﻬﺎ
ﺍﻟﻮﺍﻃﺊ ﺻﺎﺭﺕ ﺃﻡ ﻭﻟﺪ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ، ﻭﺗﺰﻭﻳﺞ ﺃﻡ ﺍﻟﻮﻟﺪ
ﻓﻴﻪ ﻗﻮﻻﻥ ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
Sumber:
Hasyiah
al-Bujairimi ala al-Khatib
Al-Majmu’ Syarh
al-Muhadzdzab
Posting Komentar